
Bulan Juni 1985, saya lulus taman kanak-kanak. Nilai-nilainya sih standar-standar saja, tidak ada yang istimewa. Selain buku rapor, hasil karya kita pun dikembalikan, seperti lukisan-lukisan, gambar-gambar, buku menulis cetak, buku menulis halus, buku gambar tempel, dan buku berhitung.
Ketika saya lihat hasil lukisan dan gambar saya, saya sedikit terkejut. Karena Ibu guru memberi saya nilai (ponten), dia juga memberi judul gambar-gambar dan lukisan-lukisan saya.
Beberapa yang saya ingat adalah:
- gambar pohon-pohon, dengan batang yang kecil, dan bagian atas yang membulat dan saya warnai hijau ... oleh Bu Guru diberi judul: BALON.
- lukisan bencana alam, yang terinspirasi oleh bencana letusan gunung galunggung 5 Mei 1982, dengan segala macam atribut gunung meletus, seperti pijaran api, lahar yang keluar dari gunung, dan rusaknya sawah dan pohon di sekitarnya ... oleh Bu Guru diberi judul: PEMANDANGAN ALAM.
- lukisan gunung, tapi saya bikin berwarna-warni ... oleh Bu Guru diberi judul: PELANGI.
- gambar beruang, memang agak gemuk beruangnya ... oleh Bu Guru diberi judul: BABI.
Saya memang sadar, gambar saya tidak bagus, tetapi berarti selama ini apa yang ingin saya sampaikan melalui gambar itu tidak sampai, termasuk pada seorang guru.
Dan sayapun teringat, kalau ada pelajaran menyanyi, di mana setiap murid disuruh menyanyi ke depan, saya akan menyanyikan lagu yang tidak biasa. Saya nyanyikan lagu anak-anak, tapi lagu anak-anak yang saya dengar dari kaset-kaset yang MELE7IT NGEHITS pada masa itu, seperti kaset Sanggar Cerita, si Unyil, Yoan Tanamal dan lain-lain.
Seperti waktu saya menyanyikan lagu Yoan Tanamal, "Si Kodok", ketika saya nyanyi "Mama, lihatlah kodok melompat ... WOK! WOK!", seisi kelas tergelak-gelak menertawakan saya, termasuk Ibu Guru.
Atau ketika saya menyanyikan lagu balada "Galunggung", yang lagunya "Gaaaaalunggung, meletus lagiiiii ... " seisi kelas pun menertawakan lagu aneh itu. Padahal kalau kata saya itu lagu bagus lho.
Teman-teman pun suka meminta saya menyanyikan lagu itu kalau bertemu saya. Entah itu meledek atau bagaimana, tapi hal itu membuat saya malu pada waktu itu.
Yang saya simpulkan ketika saya mau masuk SD adalah, how I was missunderstood. Everything that I expressed through art which I thought came out right, they were intepretated differently. Bahkan oleh guru saya, yang lebih tua dan pastinya lebih pintar dari saya. Pelajaran menyanyi yang harusnya biasa saja, malah berasa jadi lawakan buat teman-teman dan guru saya, padahal I followed the rules. Saya nyanyikan lagu yang benar-benar ada, dan lagu anak-anak. Mungkin waktu itu aneh karena mereka belum pernah mendengarnya.
Dan sekarang saya sadari... mungkin kita lebih tua, mungkin kita lebih pintar, tapi kita belum tahu maksud dari orang lain. Tidak ada salahnya kita bertanya dulu sebelum kita menyimpulkan sesuatu. Karena yang kita simpulkan belum tentu benar. Contohnya menyimpulkan gambar atau lukisan anak TK saja salah, coba kalau ditanya dulu. Walaupun gambarnya jelek, tapi unsur-unsur dari gambar/lukisan itu setidaknya akan ada dari maksud saya sebagai pembuat gambar atau lukisan.
Juga, biarkan orang berkreasi. Biarkanlah ia menyelesaikannya. Mungkin caranya berbeda, mungkin berbeda dari yang sudah ada, tapi selama dia following the rules, bukankah menjadi lebih seru, karena ada yang berbeda dari yang biasanya.
Well, it's just a thought ... :)